Permasalahan sampah akhir-akhir ini menjadi isu yang sangat popular dan hangat bagi  masyarakat Jogja dan sekitarnya. Setelah Pemda DIY melakukan penutupan TPA Piyungan, masyarakat Joga dan sekitarnya mulai merasakan keresahan dan dampak negatif terhadap sampah yang tidak terkelola dengan baik. Banyak masalah yang akan muncul ketika sampah tidak terkelola dengan baik mulai dari masalah kesehatan, lingkungan serta estetika.  Hal ini tampaknya memicu warga Kalurahan Sinduharjo khususnya warga Padukuhan Dukuh untuk memulai belajar pengelolaan sampah.Kesadaran akan setiap keluarga untuk bisa memilah sampah rumah tangga tampaknya menjadi satu kunci terwujudnya pengelolaan sampah yang baik. Oleh karena itu warga Padukuhan Dukuh mulai memasukkan program kerja pengelolaan sampah menjadi salah satu prioritas kegiatan kampung.  Diawali dengan bekerjasama dengan Tim PbM LPPM UPN Veteran Yogakarta  pada Maret  – Agustus  2023, terbentuklah kelompok swadaya pengelola sampah “Migunani” yang sekaligus secara resmi diterbitkannya SK Kepengurusan oleh Kalurahan Sinduharjo. Selain itu juga telah terbangun Rumah Maggot “Migunani” sebagai salah satu alternatif di dalam pengolahan sampah organik. Hal ini ditandani dengan launching Pengurus dan peresmian Rumah Maggot pada Rabu, 19 Juli 2023 yang dihadiri langsung oleh Lurah Sinduharja Bpk Sudarja.

Sebagai tindaklanjut dari pengolahan sampah organik dengan menggunakan Maggot BSF, maka pada Minggu, 17 September 2023 juga dilakukan kunjungan pembelajaran oleh Pengurus Kelompok Pengelola Sampah “Migunani” dan Warga Padukuhan Dukuh ke Omah Maggot Jogja di Dusun Melikan, Piyungan Bantul. Istimewanya kunjungan tersebut juga didamping secara langsung oleh Lurah Sinduharjo (Bp Sudarja), Ketua BPKal Sinduharji (Bp Sukoco), Carik Sinduharjo (Bp Faisal) dan Kepala Dukuh Padukuhan Dukuh (Ibu Widayat Yogyanti). Kunjungan pembelajaran ini diinisiasi oleh mahasiswa S3 Ilmu Lingkungan UGM yang juga menjadi salah satu program PkM S3 Ilmu Lingkungan, Sekolah Pascasarjana UGM di Padukuhan Dukuh Sinduharjo yang diketuai oleh Dian Hudawan, M.Sc. Kunjungan melibatkan mahasiswa S3 Ilmu Lingkungan UGM, bpk ibu warga Padukuhan Dukuh dan perangkat Kalurahan di Oemah Maggot Jogja dengan menggunakan bus. Diterima dengan baik oleh Pak Henri selaku Founder Omah Maggot Jogja. Pada kunjungan tersebut Pak Henri memberikan penjelasan yang menarik dan peserta antusias mendengarkan penjelasan dari Pak Henri.

BSF (Hermetia Illucens) adalah sejenis lalat berwarna hitam yang larvanya (maggot) mampu mendegradasi sampah organik. Maggot atau belatung yang dihasilkan dari telur lalat hitam (BSF) sangat aktif memakan sampah organik. Proses biokonversi oleh maggot ini dapat mendegradasi sampah lebih cepat, tidak berbau, dan menghasilkan kompos organik, serta larvanya dapat menjadi sumber protein yang baik untuk pakan unggas dan ikan. Proses biokonversi dinilai cukup aman bagi kesehatan manusia karena lalat ini bukan termasuk binatang vektor penyakit. Kemampuan BSF mengurai sampah organik tak perlu diragukan lagi. Maggot membutuhkan sampah organik untuk tumbuh selama 25 hari sampai siap dipanen. Maggot memiliki kemampuan mengurai sampah organik 2 sampai 5 kali bobot tubuhnya selama 24 jam. Satu kilogram maggot dapat menghabiskan 2 sampai 5 kilogram sampah organik per hari.

Maggot yang sudah menjadi prepupa maupun bangkai lalat BSF masih bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak karena kaya protein. Kepompongnya juga bisa dimanfaatkan sebagai pupuk, sehingga dalam proses budidayanya tidak menghasilkan sampah baru. Cara budidaya maggot juga terbilang mudah. Yang dibutuhkan yaitu kandang lalat BSF yang berfungsi sebagai tempat BSF kawin dan memproduksi telur hingga penetasan. Kandang ditutup kawat atau kasa dan diletakkan di tempat yang terkena sinar matahari. Untuk tempat bertelur bagi lalat BSF betina, perlu disiapkan kardus, kayu, atau papan yang memiliki celah. Taruh telur di media penetasan berupa box atau wadah kecil. Telur akan menetas dalam 3-4 hari. Terakhir, siapkan rak atau biopond untuk tempat pembesaran maggot. Pada akhirnya muncul pemahaman berbagai manfaat dapat dihasilkan dengan budidaya maggot BSF. Maggot BSF mampu menjadi peluang besar sebagai solusi permasalhan lingkungan dengan menguraikan sampah organik, menyediakan pakan ternak dan ikan,  pupuk, edukasi dan bisnis yang menjanjikan kedepannya

Setelah kunjangn ini dilaksanakan diharapkan pengelolaan sampah dengan menggunakan maggot BSF dapat dilaksanakan dengan lebih baik di Padukuhan Dukuh sehingga dapat membantu mengurangai sampah organik dan sekaligus dapat meningkatkan perekonomian warga padukuhan Dukuh.