Nama padukuhan ini berakar dari peristiwa masa lampau yang luar biasa. Konon, seekor banteng klangenan (banteng kesayangan) dari keraton hilang dan mengamuk, menebar ketakutan di wilayah tersebut. Pencarian banteng yang perkasa ini dipimpin oleh Gondo Laksono, seorang abdi dalem keraton yang juga berprofesi sebagai dalang.

Saat ditemukan, banteng itu melampiaskan amarahnya dengan menanduk sebuah pohon randu raksasa hingga tumbang. Dalam takdir yang tak terduga, justru pohon yang rubuh itulah yang menimpa dan menjepit banteng yang perkasa itu. Menyaksikan drama alam dan kekuatan tak terduga ini, Gondo Laksono lantas menetapkan nama Padukuhan Banteng bagi lokasi tersebut.

Peristiwa Banteng dan Randu ini melahirkan filosofi mendalam bagi warga: bahwa kekuatan sejati tidak terletak pada arogansi. Orang yang tampak perkasa (banteng) bisa takluk oleh sesuatu yang diam (pohon), mengajarkan bahwa orang kuat tidak boleh berlaku semena-mena terhadap rakyat kecil/orang lemah, sebab kekuatan sejati terkadang tersembunyi dan lebih dahsyat.

Di samping itu, salah satu bagian padukuhan ini dikenal sebagai Kopen, yang diambil dari kata kopi. Nama ini menjadi saksi bisu sejarah wilayah yang dulunya adalah perkebunan kopi yang luas dan makmur.