Asal mula nama Palgading terukir dari legenda kuno yang sarat nuansa heroik dan tragedi. Menurut kisah lisan yang mengalir di kalangan warga, wilayah ini menjadi saksi bisu dari Perang Gajah di masa lampau.

Salah satu gajah tangguh yang terlibat dalam pertempuran mengalami musibah
fatal. Gadingnya patah (sempal) akibat hantaman senjata, menandai kekalahannya. Gading keramat itu kemudian tergeletak (pal) begitu saja di lokasi] tersebut. Peristiwa gajah yang kalah dan gadingnya yang Pal (tergeletak) dan
Gading (patah) menjadi ingatan kolektif masyarakat.

Tempat di mana gading keramat itu teronggok diabadikan sebagai nama dusun. Nama Palgading pun menjadi monumen bisu atas sebuah pengorbanan dan sisa sisa pertempuran gajah di masa silam.

Secara historis, Palgading adalah lokasi Situs Candi Palgading, peninggalan Kerajaan Mataram Kuno abad ke-9 hingga ke-10 dan bercorak Buddha Mahayana. Situs yang ditemukan pada tahun 2006 ini diduga merupakan pusat pemujaan Bodhisattwa Avalokitesvara, menjadikannya pusat cahaya spiritual kuno. Selain itu, Palgading juga memiliki situs alam penting, yaitu Mata Air Dwipa Palgading.