Padukuhan Taraman lahir dari sebuah episode spiritual yang agung. Wilayah ini menjadi titik persinggahan bagi Ki Ageng Mataram dalam laku spiritual atau grilya beliau. Di tempat yang saat itu masih tanpa nama, beliau bertemu keluarga perintis awal, Mbah Tletik dan istrinya, yang menyambut kedatangan rombongan Ki Ageng. Tempat ini segera berubah menjadi pondok peradaban. Ki Ageng Mataram, didampingi banyak Abdi Dalem, tinggal cukup lama, mengadakan diskusi mendalam, dan memulai penyebaran ajaran Agama Islam. Karena lamanya menetap dan kontribusi agung beliau, Ki Ageng Mataram berkenan menganugerahkan nama Taraman yang akan menjadi identitas abadi wilayah ini. Momen pemberian nama tersebut dikuatkan oleh sebuah legenda: Ki Ageng menancapkan tongkat yang kelak tumbuh menjadi Beringin Kembar, simbol kemakmuran (meski pohon bersejarah itu kini sudah tiada, gugur satu per satu).

Sebelum melanjutkan perjalanan, beliau menitipkan amanah dakwah dan pembangunan. Tokoh-tokoh penting yang ditinggalkan adalah Imam Besari (penyebar utama Islam) dan seorang Abdi Dalem Ki Ageng Pengging.

Calukan: Kisah Penyeberangan di Seberang Kali Mblotan Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya populasi Taraman, warga mulai melebarkan wilayahnya ke seberang Sungai Mblotan, yang kemudian dikenal sebagai Calukan. Narasi penamaan Calukan diperkaya oleh kisah heroik para perintis yang berjuang membuka lahan (babat alas).

Nama ini lahir dari kebiasaan warga yang colak-calik (bolak-balik menyeberang) sungai setiap hari, pagi untuk bekerja dan sore untuk kembali. Versi lain menyebut nama ini lahir dari kebiasaan warga yang sering celuk-celuk (memanggil) dalam Bahasa Jawa saat hari beranjak petang. Wilayah ini menjadi saksi bisu penetapan keluarga perintis baru, seperti Mbah Setu dan Mbah Utup, yang namanya kini diabadikan sebagai nama jalan di Calukan.