Arca Dhyani Budha Aksobhya

Ditemukan 14 Juli 2007 di Dusun Palgading. Desa Sinduharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Arca dari Palgading dapat dikenali sebagai Dhyani Budha Aksobhya dari sikap tangan bhumisparsamudra yang melambangkan memanggil dewi bumi sebagai saksi. Arca Dhyani Budha Aksobhya sesuai konsep pantheon agama Budha, sebagai penguasa timur bersama Dhyani Bodhisatwa Wajrapani dan Manusi Budha Kanakamuni. Sistem pantheon arca seperti ini dapat dilihat pada Candi Barabudur dan Candi Kalasan (relung arca di bagian atap candi).
Arca Dhyani Budha Aksobhya dari Palgading digambarkan dengan sikap dudukvajrāsana, yaitu sikap duduk bersila dalam posisi meditasi, sikap ini sering pula disebut yogāsana.Arca dengan duduk di atas padmāsana atau teratai merah.
Sebagaimana lazimnya arca Dhyani Budha, yaitu usnisa atau sanggul yang melambangkan kebijaksanaan atau kearifan (David L. Snellgrove, 1982). Urna adalah bintik indah di dahi sebagai ciri arca Dhyani Budha sudah tidak kelihatan karena arca sudah aus.
Dalam agama Budha dikenal adanya dua aliran, yaitu Budha Hinayana dan Budha Mahayana. Hal ini dapat dilihat dari alam kedewaan atau pantheon yang dipuja. Budha Hinayana tidak mengenal alam kedewaan yang luas sebagaimana Budha Mahayana. Di Indonesia yang berkembang adalah Budha Mahayana, dengan pemujaan terhadap Dhyani Budha, Manusi Budha dan Dhyani Bodhisatwa. Dari ketiga tingkatan Budha tersebut yang banyak dipuja adalah Dhyani Budha dan Dhyani Bodhisatwa. Dhyani Budha terlengkap dapat dilihat pada Candi Borobudur, sedangkan Dhyani Bodhisatwa dijumpai pada beberapa candi, seperti Candi Plaosan, Candi Risan, Candi Ngawen, dan Candi Palgading. Arca Dhyani Budha Aksobhya yang ditemukan di Palgading, menjadi bukti bahwa Palgading merupakan candi dari agama Budha Mahayana.
Di Daerah Istimewa Yogyakarta perkembangan agama Budha dapat diketahui dari prasasti Kalasan yang merupakan keterangan tertulis menyinggung tentang agama Budha. Dari prasati yang memuat angka tahun 700 Saka atau 778Masehi didapat keterangan pendirian bangunan suci bagi Dewi Tara dan sebuah biara untuk para pendeta kerajaan. Bangunan suci itu dibangun oleh Mahârâja Tejahpurnapana Panamkarana atas bujukkan Guru Sang Raja yang merupakan mustika-nya keluarga Sailendra. Di samping itu juga disebutan bahwa Panamkarana menghadiahkan desa Kalasa kepada para Sangga. (Sartono Kartadirdja dkk, 1975). Sanggaadalah para pemeluk agama Budha. Dengan demikian agama Budha telah berkembang di wilayah Daerah Isimewa Yogyakarta sejak abad ke VIII Masehi.
Tentang Candi Palgading dengan temuan arca Dhyani Budha Aksobhya belum diketahui secara pasti kapan dibangunnya karena hingga saat ini belum ditemukan bukti tertulis atau prasasti yang berkaitan dengan candi ini. Dari analogi tentang berkembangnya agama Budha di pulau Jawa, maka Candi Palgading diperkirakan berdiri pada abad IX – X Masehi, demikian pula dengan arcanya. Selain arca Dhyani Budha Aksobhya juga ditemukan arca Dhyani Bodhisatwa Awalokiteswara di Palgading. Dengan temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa di Palgading pada Hindu di Indonesia merupakan tempat pemujaan bagi pemeluk agama Budha.
Arca Dhyani Budha Aksobhya ini sekarang disimpan di Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta dengan nomor inventaris BG 1862. Arca Dhyani Budha Aksobhya telah ditetapkan sebagai cagar budaya dengan SK Bupati 5.9/Kep.KDH/A/2018 pada tanggal 9 Januari 2018.
ARCA DHYANI BUDHA AMITABHA

Arca Dhyani Budha Amitabhamasuk dalam Inventaris Balai Pelestarian Cagar Budaya DIY pada 10 Januari 1980 berasal dari Dusun Palgading. Desa Sinduharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Arca dari Palgading dapat dikenali sebagai Dhyani Budha Amitabha dari sikap tangan dhyanamudra yang melambangkan sikap semedi. Arca Dhyani Budha Amitabha sesuai konsep pantheon agama Budha, sebagai penguasa barat bersama Dhyani Bodhisatwa Awalokiteșwara dan Manusi Budha Sakyamuni. Pantheon arca yang berkaitan dengan ini dapat dilihat pada Candi Barabudur dan Candi Kalasan (relung arca di bagian atap candi).
Arca Dhyani Budha Amitabha dari Palgading digambarkan dengan sikap dudukvajrāsana, yaitu sikap duduk bersila dalam posisi meditasi, sikap ini sering pula disebut yogāsana.Arca ini duduk di atas padmāsana atau teratai merah. Sebagaimana lazimnya atribut arca Dhyani Budha, yaitu usnisa atau sanggul yang melambangkan kebijaksanaan atau kearifan (David L. Snellgrove, 1982), namun sayang arca Dhyani Budha Amitabha dari Palgading ini telah patah pada bagian kepala.
Di dalam agama Budha dikenal adanya dua aliran, yaitu Budha Hinayana dan Budha Mahayana. Hal ini dapat dilihat dari alam kedewaan atau pantheon yang dipuja. Budha Hinayana tidak mengenal alam kedewaan yang luas sebagaimana Budha Mahayana. Di Indonesia yang berkembang adalah Budha Mahayana, dengan pemujaan terhadap Dhyani Budha, Manusi Budha dan Dhyani Bodhisatwa. Dari ketiga tingkatan Budha tersebut yang banyak dipuja adalah Dhyani Budha dan Dhyani Bodhistwa. Dhyani Budha terlengkap dapat dilihat pada Candi Borobudur, sedangkan Dhyani Bodhisatwa dijumpai pada beberapa candi, seperti Candi Plaosan, Candi Risan, Candi Ngawen, dan Candi Palgading. Arca Dhyani Budha Amitabhayang ditemukan di Palgading, menjadi bukti bahwa Palgading merupakan candi yang berlatar belakangagama Budha Mahayana.
Di Daerah Istimewa Yogyakarta perkembangan agama Budha dapat diketahui dari prasasti Kalasan yang merupakan keterangan tertulisyang menyinggung tentang agama Budha. Dari prasati yang memuat angka tahun 700 Şaka atau 778Masehi didapat keterangan tentang pendirian bangunan suci bagi Dewi Tara dan sebuah biara untuk para pendeta kerajaan. Bangunan suci itu dibangun oleh Mahârâja Tejahpurnapana Panamkarana atas bujukkan Guru Sang Raja yang merupakan mustika-nya keluarga Sailendra. Di samping itu juga disebutan bahwa Panamkarana menghadiahkan desa Kalasa kepada para Sangga. (Sartono Kartadirdja dkk, 1975). Sanggaadalah para pemeluk agama Budha. Dengan demikian agama Budha telah berkembang di wilayah Daerah Isimewa Yogyakarta sejak abad ke-8 Masehi.
Tentang Candi Palgading dengan temuan arca Dhyani Budha Amitabha belum diketahui secara pasti kapan dibangunnya karena hingga saat ini belum ditemukan bukti tertulis atau prasasti yang berkaitan dengan candi ini. Dari analogi tentang berkembangnya agama Budha di pulau Jawa, maka Candi Palgading diperkirakan berdiri pada abad IX – X Masehi, demikian pula dengan arcanya. Selain arca Dhyani Budha Amitabha,di Palgadingjuga ditemukan arca Dhyani Bodhisatwa Awalokiteșwara. Dengan temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa di Palgading pada masa Hindu di Indonesia merupakan tempat pemujaan bagi pemeluk agama Budha.
Arca Dhyani Budha Amitabha ini sekarang disimpan di Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta dengan nomor inventaris BG 390. Arca Dhyani Budha Amitabha telah ditetapkan sebagai cagar budaya dengan SK Bupati 5.9/Kep.KDH/A/2018 pada tanggal 9 Januari 2018.
ARCA DHYANI BODHISATWA AWALOKITEŞWARA

Arca Dhyani Bodhisatwa Awalokiteșwara ditemukan 19 Februari 2007 di Dusun Palgading. Desa Siduharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.Arca ditemukan dalam keadaan patah pada bagian leher menjadi dua bagian besar. Selain itu ada bagian yang belum ditemuan yaitu sebagian dari stella atau sandaran arca bagian kiri dan kanan, serta adanya keausan batu pada bagian tangan sebelah kiri.
Arca dari Palgading dapat dikenali sebagai Dhyani Bodhisatwa Awalokiteșwara atau Padmapani, dengan ciri utamanya berupa Dhyani Budha Amitabha pada mahkotanya. Atribut lain adalah memegang padma yang di atasnya ada pustaka atau buku. Dhyani Bodhisatwa Awalokiteșwara dari Palgading tangan kanannya bersikap waradamudra atau waramudra, yaitu sikap tangan memberi anugerah, seperti sikap tangan Dhyani Budha Ratnasambhawa.
Mahkota arca ini berbentuk kiritamukuta, di lehernya memakai hara atau kalung, keyura atau kelat bahu di lengan, dan kankana atau gelang. Arca digambarkan dengan sikap duduk paryanka atau padmasana, yaitu duduk sila dengan kedua kaki saling bersilangan. Arca Dhyani Bodhisatwa Awalokiteșwara digambarkan duduk diatas lapik atau landasan arca berbentuk teratai merah atau padmasana.
Di dalam agama Budha dikenal adanya dua aliran, yaitu Budha Hinayana dan Budha Mahayana. Hal ini dapat dilihat dari alam kedewaan atau pantheon yang dipuja. Budha Hinayana tidak mengenal alam kedewaan yang luas sebagaimana Budha Mahayana. Di Indonesia yang berkembang adalah Budha Mahayana, dengan pemujaan terhadap Dhyani Budha, Manusi Budha dan Dhyani Bodhisatwa. Dari ketiga tingkatan Budha tersebut yang banyak dipuja adalah Dhyani Budha dan Dhyani Bodhisatwa. Dhyani Budha terlengkap dapat dilihat pada Candi Borobudur, sedangkan Dhyani Bodhisatwa dijumpai pada beberapa candi, seperti Candi PlaosanLor, Candi Risan, Candi Ngawen, dan Candi Palgading.
Awalokiteșwara merupakan salah satu dari Dhyani Bodhisatwa, yang berarti juru penerang, mendapat pengetahuan Bodhi tetapi menolak masuk nirwana dan berkeinginan memberi petunjuk kepada manusia untuk mencapai kebenaran. Dhyani Bodhisatwa berasal dari lima Budha dalam meditasi atau Dhyani Budha. Kelima Dhyani Bodhisatwa itu adalah Samantrabhadra, Wajrapani, Ratnapani, Awalokiteșwara (Padmapani), dan Wiswapani, yang muncul dari Dhyani Budha Wairocana, Aksobya, Ratnasambhawa, Amitaba, dan Amogasidhi. (R.S. Gupte, 1972).Arca Dhyani Bodhisatwa Awalokiteșwara seringpula disebut Padmapani, dengan ciri khas adanya arca Dhyani Budha Amitaba pada makuta atau mahkotanya.
Arca Dhyani Budha Awaloiteșwara yang ditemukan di Palgading, menjadi bukti bahwa Palgading merupakan candi dari agama Budha Mahayana. Di Daerah Istimewa Yogyakarta perkembangan agama Budha dapat diketahui dari prasasti Kalasan yang merupakan keterangan tertulisyang berisitentang agama Budha. Dari prasati yang memuat angka tahun 700 Şaka atau 778 Masehi didapat keterangan tentang pendirian bangunan suci bagi Dewi Tara dan sebuah biara untuk para pendeta kerajaan. Bangunan suci itu dibangun oleh Mahârâja Tejahpurnapana Panamkarana atas bujukkan Guru Sang Raja yang merupakan mustikanya keluarga Şailendra. Di samping itu juga disebutan bahwa Panamkarana menghadiahkan desa Kalasa kepada para Sangga. (Sartono Kartadirdja dkk, 1975). Sanggaadalah para pemeluk agama Budha. Dengan demikian agama Budha telah berkembang di wilayah Daerah Isimewa Yogyakarta sejak lama.
Candi Palgading yang juga memiliki temuan arca Awalokiteșwara belum diketahui secara pasti kapan dibangunnya, karena hingga saat ini belum ditemukan bukti tertulis atau prasati yang berkaitan dengan candi ini. Dari analogi tentang berkembangnya agama Budha di pulau Jawa, maka Candi Palgading diperkirakan berdiri pada abad IX – X Masehi, demikian pula dengan ciri-ciri arcanya. Selain arca Awalokiteșwara juga ditemukan arca Dhyani Budha Aksobya di Palgading. Dengan temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa di Palgading pada masaHindu di Indonesia merupakan tempat pemujaan bagi pemeluk agama Budha.
Arca Dhyani Bodhisatwa Awalokiteșwara ini sekarang disimpan di Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta dengan nomor inventaris BG 1861. Arca Dhyani Bodhisatwa Awalokiteșwara telah ditetapkan sebagai cagar budaya dengan SK Bupati 5.9/Kep.KDH/A/2018 pada tanggal 9 Januari 2018.
ARCA SINGA

Arca ini menggambarkan seekor singa yang duduk di atas landasan berbentuk oval. Bagian bawah landasan tidak rata. Posisi duduk dengan tubuh condong ke depan, dua kaki belakang ditekuk, dua kaki depan lurus. Mata singa ini digambarkan tanpa lingkaran mata dan tanpa alis. Ciri lainnya adalah arca ini mempunyai hidung, taring, telinga, lidah terjulur keluar, surai menutupi kepala hingga tengkuk dan janggut, cakar berbentuk bulan sabit, dan ujung ekor menempel pada punggung kanan.
Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki warisan budaya dan cagar budaya bersifat bendawi yang merupakan kekayaan kultural, diantaranya merupakan bukti adanya pengaruh kebudayaan Hindu pada abad ke-8 hingga abad ke-10 Masehi, yang sering disebut Mataram Kuno. Dari bukti-bukti arkeologis yang ditemukan, wilayah Mataram Kuno meliputi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah saat ini. Di kedua wilayah ini terdapat tinggalan yang beraneka ragam dan salah satunya disebut dengan istilah candi, yaitu bangunan yang sangat erat hubungannya dengan keagamaan pada masa itu.
Berdasarkan prasasti Canggal dari Gunung Wukir, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, selain menyebut pertanggalan dengan candrasengkala “srusti indriya rasa” atau 654 Saka atau 732 Masehi, juga menyebut nama Sanjaya yang mengaku anak Sanaha, saudara perempuan Sanna. Dalam prasasti Canggal ini berisi tentang pendirian lingga (agama Hindu) pada suatu bangunan suci di atas sebuah bukit di daerah Kunjarakunja yang diperkirakan adalah Candi Gunungwukir.
Dari prasasti batu yang ditulis dengan aksara pra-nagari dalam bahasa Sansekerta menyebutkan tentang pembangunan sebuah candi untuk Dewi Tara (Tara Bhavanam) dan sebuah wihara untuk para pendeta di Desa Kalasan pada tahun 700 Saka atau 778 Masehi oleh Maharaja Dyah Pancapana Karyana Panamkarana. Candi yang dimaksud dengan Tara Bhavanam tersebut tentulah bukan candi dari agama Hindu melainkan candi agama Budha, karena menyebutkan Dewi Tara. Bangunan yang didirikan adalah Candi Kalasan dan viharanya kemungkinan Candi Sari yang tidak jauh letaknya dengan Candi Kalasan. Prasasti ini merupakan bukti tertulis pertama yang menyebutkan berkembangnya agama Budha di Jawa bagian tengah.
Masa Mataram Kuno merupakan periode dengan peninggalan yang tersebar di seluruh wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Dari cacatan pada masa penjajahan Belanda yang dimuat dalam Rapporten van de Commissie in Nederlandsch-Indie tahun 1909 dan Rapporten van de Oudheidkundigen Dienst tahun 1915, menunjukkan betapa banyaknya tinggalan masa Mataram Kuno di wilayah ini. Peninggalan masa Mataram Kuno ditemukan di semua Kabupaten yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta
Berdasarkan data arkeologi diketahui bawah di wilayah D. I. Yogyakarta pada pada abad ke 9 hingga abad ke 10 berkembang agama Hindu dan Budha.
Arca singa memiliki keterkaitan erat dengan Agama Buddha. Menurut kepercayaan Buddha, Singa merupakan kendaraan sang Buddha ke nirwana. Singa juga merupakan simbol dari sang Buddha, yaitu Sidharta Gautama yang dikenal sebagai “Singa keluarga Sakya” karena singa adalah raja para binatang yang melambangkan kekuatan, keberanian, kemenangan serta kemampuan untuk melindungi para penganut agama Buddha.
Arca Singa dari Palgading kemungkinan merupakan bagian dari Situs Stupa Palgading. Di situs ini pernah ditemukan Arca Dhyani Budha Aksobhya, Arca Dhyani Bodhisatwa Awalokiteswara dan Arca Dhyani Budha Amitabha. Adapun pendirian Situs Palgading belum diketahui secara pasti mengingat belum ditemukannya sumber data arkeologi tetulis. Dari analogi tentang berkembangnya agama Budha di pulau Jawa, maka Candi Palgading diperkirakan berdiri pada abad IX – X Masehi, demikian pula dengan arca-arcanya.
Arca Singa telah ditetapkan sebagai cagar budaya dengan SK Bupati 3.15/Kep.KDH / A / 2020 pada tanggal 8 Januari 2020.
Status Kepemilikan dan/atau Pengelolaan :
Kepemilikan: Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta
Pengelolaan: Museum Ullen Sentalu.