Gerobag sapi saat ini sudah jarang kita temukan, kecuali dalam parade budaya. Sementara di masa lalu menjadi salah satu pilihan sarana transportasi tradisional yang dijalankan oleh tenaga hewan. Gerobak mempunyai daya angkut yang besar. Moda transportasi ini menghubungkan jalan-jalan di desa dan mengangkut orang maupun barang-barang. Kendaraan ini bisa juga mengangkut hasil-hasil pertanian seperti tembakau, kopi, atau tebu, bahkan hasil hutan seperti kayu. Gerobak sapi sudah ada sejak zaman Majapahit dan terus berkembang hingga zaman Mataram Islam.
Di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta, gerobak sapi mulai berkembang pada zaman Kerajaan Mataram Islam di abad ke-16. Saat itu gerobak sudah ada dan berkembang dengan pesat. Rakyat dapat menggunakannya untuk mengangkut orang maupun hasil-hasil pertanian. Kondisi ini makin berkembang ketika zaman Hindia Belanda. Jalan dan jembatan banyak dibangun, fungsi dan keberadaan gerobak makin strategis.
Mengenal Gerobag
Gerobak merupakan moda transportasi yang di- tarik oleh sapi. Ada yang seekor ada pula yang dua ekor. Gerobak dilengkapi dengan pelindung matahari pada sisi kiri dan kanan (gribig). Pelindung ini ter- buat dari bambu, dengan warna merah-biru-kuning- hitam-putih. Sekarang, motif hiasan gribig beraneka. Umumnya gambar dekoratif wayang, hewan ternak atau ikan.
Gerobak mempunyai dua buah roda, dan jalannya dilengkapi rem dari balok kayu. Sistem pengereman berfungsi dengan menginjak tali di bawah penge- mudi. Bentuk awal yang cukup sederhana dengan roda kayu atau besi. Sementara roda gerobak sapi aslinya dari kayu atau besi. Harga lebih mahal dari roda ban truk yang biasa digunakan sejak era 1970- an akhir. Saat ini untuk melestarikan gerobak di- lakukan pawai gerobak yang melewati pedukuhan Gentan tetapi diselenggarakan bersama dengan pedukuhan lainnya.
Kusir gerobak disebut dengan kata ‘bajingan’ dan ini pernah diulas dalam National Geogaphic. Penggunaan kata ini mengalami pergeseran makna karena para pelanggan kecewa, menganggap kusir gerobag tidak bertanggung jawab, jalannya lambat, sehingga pelanggan menunggu lama. Pertama kali kata ini digunakan sebagai umpatan atau berkonotasi negatif ditemukan pada abad ke-19. Dalam buku Max Havelaar karya Multatuli (terbit 1860), kata bajingan digambarkan sebagai sosok yang tidak bertanggung jawab.