Padukuhan Gentan berada di Kalurahan Sinduharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman. Perjalanan sejarah Padukuhan Gentan di mulai dari abad ke-7 berlanjut hingga Perjanjian Giyanti tahun 1755, yang memecah kerajaan menjadi dua, yaitu Kerajaan Surakarta dan Kerajaan Ngayogyakarta. Dari candi Borobudur, garis itu melintang serong melintasi Kabupaten Magelang, Sleman, lalu Klaten. Selanjutnya, terus ke timur melalui bagian utara Pulau Jawa hingga sampai ke Tumapel (Singosari) Malang, Jawa Timur. Padukuhan Gentan Desa Sinduharjo terlewati barisan peninggalan sejarah ini karena tepat di tengah jalur peradaban antara Borobudur hingga ke Prambanan. Jejak arkeologis Gentan atau jejak peninggalan sejarah terwujud dalam “watu gilang” yang ditemukan di sudut padukuhan.
“Watu gilang” di Padukuhan Gentan masih ada namun tampak tidak terawat. “Watu gilang” ini berbentuk hampir kotak, terletak di RT 01 RW 11, tepatnya di sebelah buk ‘pagar sebagai penanda yang dapat dijadikan tempat duduk’ terbuat dari batu bata yang disemen di ujung padukuhan, persis di pinggir jalan kampung dekat permukiman warga.
Dulu Gentan merupakan nama kalurahan. Namun, berdasarkan Maklumat Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta yang diterbitkan pada Tahun 1946, ada 3 (tiga) kalurahan yang digabung menjadi satu dengan nama Kalurahan Sinduharjo. Ketiga kalurahan itu adalah Kalurahan Gentan, Kalurahan Dayu, dan Kalurahan Prujakan. Jadi secara administratif Padukuhan Gentan dimulai sejak 1946..
Sugiyana tinggal di Gentan sejak lahir (1967), merupakan generasi kedua. Dia mengisahkan tentang adanya pasar Gentan menurut cerita para tetua masyarakat. Pasar Gentan zaman dulu bangunannya menggunakan kerangka besi dari rel kereta api. Di sekitar Gentan memang tidak ada stasiun kereta api, tetapi di situ dulu pernah ada tempat menyimpan besi bekas rel kereta api. Ini terjadi pada masa penjajahan Belanda, meski tidak diketahui jelas periode waktunya.
Di masa lalu, pasar Gentan sekaligus menjadi terminal atau tempat mangkal gerobak sapi. Pasar Gentan menjadi tempat mangkal pedagang dari banyak tempat, dan sebagian juga sering menuju ke kota terutama pasar Beringharjo. Waktu itu jalan-jalan masih belum bagus. Banyaknya gerobak yang mangkal di pasar Gentan ini kemungkinan mengawali sebutan nama Padukuhan Gentan. Setiap sapi diberi lonceng di lehernya yang disebut klunthung ‘genta.’ Dari kata gentha lalu lama-kelamaan orang menyebutnya Gentan.
Penulis : Veronika Murwaningsih
Tenaga Ahli : Wiwien Widyawati Rahayu