
Kalurahan Sinduharjo Kapanewon Ngaglik Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta di tahun 2023 merupakan bagian dari Desa Mandiri Budaya dengan keseluruhan 76 Desa Budaya yang ada, Sri Sultan Hamengkubuwono X Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta telah menjelaskan. Desa/ Kalurahan mandiri budaya adalah Desa mahardika, berdaulat, berintegritas dan inovatif dalam menghidupi dan mengaktualisasikan nilai-nilai keistimewaan, melalui pendayagunaan segenap kekayaan, sumber daya dan kebudayaan yang dimilikinya dengan melibatkan partisipasi aktif warganya.
Dalam sebuah Desa Mandiri Budaya tersebut harus memberdayakan 4 pilar yaitu Desa Budaya, Desa Prima, Desa Preneur dan Desa Wisata. Salah satu yang ada dalam pilar Desa Budaya di Kalurahan mandiri budaya Sinduharjo adalah kesenian jathilan. Banyak di ketahui kesenian jathilan mempunyai karakteristik dan ciri khas masing-masing misalnya kesenian jathilan satu desa dengan desa lain pasti mempunyai karakteristik yang berbeda, tetapi Kudho Utomo Jaban yang ada di Kalurahan Sinduharjo mempunyai karakteristik yang unik dan khas yang hanya dimiliki di kesenian jathilan Kudho Utomo Jaban. Kudho Utomo Jaban merupakan kesenian jathilan yang di bentuk pada tahun 1936 dimana kesenian tersebut merupakan sebuah bentuk perlawanan kepada penjajah dimana bila dengan membentuk kelompok kesenian tersebut dalam bergotong-royong saling membantu melawan penjajah tidak mudah dilihat oleh kolonial sehingga dalam berkoordinasi dengan pasukan pejuang yang lain dapat berjalan dengan baik.

Kesenian jathilan Kudho Utomo Jaban yang unik ialah selalu melakukan tradisi pentas saat hari raya Idul Fitri di hari yang ke-2 dikarenakan saat hari kedua tersebut merupakan ajang mempererat silaturahmi masyarakat Jaban serta bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa setelah menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan. Pentas tersebut juga menjadi wadah rasa gotong-royong masyarakat Jaban misalnya dari mempersiapkan pentas dan latihan sebelum dipentaskan. Pentas Kudho Utomo di hari ke-2 Lebaran merupakan juga wujud ajang bertemu sanak saudara dan teman yang berasal dari luar daerah padukuhan Jaban yang dimana masyarakat Jaban banyak yang tinggal diluar padukuhan Jaban maupun merantau di luar pulau Jawa. Keunikan lagi yang ada di pentas Kudho Utomo Jaban ialah saat pertengahan babak ada prosesi meminum sesaji yaitu berupa minuman khas jaman dahulu yaitu limun. Pentas Jathilan Kudho Utomo Jaban di hari ke-2 lebaran juga merupakan bentuk menjaga tradisi rasa gotong-royong yang sudah terjalin sejak nenek-moyang terdahulu supaya masih bisa dijalin dan dijaga oleh generasi penerus.
Penulis
Nurjayanto Prasetyo